Langsung ke konten utama

Salam...


Menuju peradaban yang diinginkan seluruh manusia, semestinya memenuhi siklus:  Refleksi sejarah, Konteks kekinian dan Gagasan masa depan. Dari ketiga unsur ini, ada satu kesamaan, yaitu kebutuhan akan narasi. Paling tidak, jangan sampai kita semua tersesat pada jalan yang berkebalikan, yakni alih-alih membangun peradaban, malah justru memundurkan peradaban karena salah dalam menerjemahkan core (inti) dari setiap unsur pembangun peradaban itu sendiri.

Dalam Islam, kita mengenal istilah adab sebelum ilmu, ilmu sebelum 'amal dan menariknya kita perlu mengetahui sekaligus mengerjakan 'amaliyah yang menguatkan adab.

Disinilah titik yang mempertemukan ketiganya, yaitu narasi. 

Pembaca, selamat menikmati: narasi untuk sivilisasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DERITA HASAD

 Epit Rahmayati (Coach Sekolah Kepenulisan Dakwah) Terpuruk dalam kubangan nista. Kala dengki menyentuh sukma. Memendam benci, di batas yang tak pernah pasti. Sampai pada rasa hasad melenyapkan belas asih. Meski Qabil sadar Habil adalah bagian nasabnya, bersaudara dari bapak yang sama. Namun nafsu amarah tak bisa dicegah. Tatkala persembahan Habil diterima, sementara pemberiannya terjelembab dalam kedustaan hati, tak laik uji.  "Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), “Aku pasti membunuhmu! ” Berkata Habil, “Sesungguhnya Allâh hanya menerima (ibadah kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Maidah: 27) Angkara kian memuncak, saat iblis turut membisik prasangka. Nafsu melenyapkan Habil semakin menjadi. Akumulasi hasad menari di benak. Membangkit dendam, yang ...

SENJA KALA di LANGIT GAZA

   Syafruddin S ( Participants Sekolah Kepenulisan Dakwah 2) Deru debu biru menghempaskan sosok itu. Napas harum mentosnya menghentak tajam. Sejenak dia mengatur ritmenya sembari membalut luka tembak lengan tangan kanan nya yang nyaris putus dengan seutas kawat. Baginya luka tak terpisahkan dari jiwa Gaza. Gaza raga dan jiwanya sekuat tenaga bertahan diantara reruntuhan puingnya. Drone yang mengitarinya dihempaskan dengan sebilah tongkat. Sebutir peluru sniper menghembuskan napasnya dengan senyuman. *** Aku terhenyak dalam duka lara yang menghimpit. Gejolak darah mudaku memerah saga. Antara hampa dan realita. "Benarkah sang Komandan telah syahid !?," tanyaku dalam diri tak percaya. "Ya Allah ya Rabbi...," teriakan bersuara serak diiringi isak tangis tak berarak menghentak kebisuan ku. Ahmed terhenyak di antara sofa butut tak berbentuk. Tangisnya kian berderai. "Tenangkan dirimu Ahmed..., ada apa !?," sapaku penuh keheranan. "Sang Komandan....sang Koma...

PENSIUN DARI DAKWAH

 Aunur Rafiq Saleh Tamhid  ( Coach Sekolah Kepenulisan Dakwah 2) Orang pensiunan, dalam bahasa Arab disebut mutaqo'id / متقاعد (orang yang sebelumnya bekerja kemudian berhenti bekerja). Kata asalnya qo'ada / قعد yakni duduk. Kata bendanya qu'ud قعود. Diantara arti قعد adalah duduk setelah sebelumnya berdiri. Atau meninggalkan sesuatu. Atau tidak mau aktif melakukan sesuatu. Fenomena ini bila terjadi di dunia dakwah disebut penyakit qu'ud / قعود. Di dalam al-Qur'an, orang yang tidak mau aktif berdakwah dan berjuang menegakkan ajaran Islam disebut dengan "قاعدون " (orang-orang yang duduk berpangku tangan). Allah berfirman, قَا لُوْا  يٰمُوْسٰۤى  اِنَّا  لَنْ  نَّدْخُلَهَاۤ  اَبَدًا  مَّا  دَا مُوْا  فِيْهَا  فَا ذْهَبْ  اَنْتَ  وَرَبُّكَ  فَقَا تِلَاۤ  اِنَّا  هٰهُنَا  قَا عِدُوْنَ  "Mereka berkata, Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah ka...